01 Agustus 2008

Sejuta Arti Ungkapan (3)

KADANG KALA BAYANGAN KITA
MEMANTULKAN KEBENARAN
YANG SELAMA INI
KITA CARI

KEDAMAIAN BUKAN SESUATU YANG DATANG
DARI LANGIT BIRU YANG LUAS
TETAPI KEDAMAIAN ITU SESUATU YANG DATANG
DARI LUBUK HATI TERDALAM
SEORANG INSAN

CINTA ITU ADALAH SESUATU YANG FITRAH
SESUATU YANG PASTI DIMILIKI
OLEH SEMUA MANUSIA
MAKA ALANGKAH NAIF HATI SESEORANG
JIKA BERKATA TAK BISA MENCINTAI
DAN TAK BISA DICINTAI
INGATLAH BAHWA HANYA ALLOH-LAH
YANG MAHA KUASA YANG MENGATUR
CINTA YANG BERSEMI PADA SETIAP HAMBA

TIDAK SELAMANYA SEBUAH ITIKAD
DAN PERBUATAN SERTA NIAT YANG BAIK
SELALU DITERIMA DENGAN BAIK PULA
BERSABARLAH SUNGGUH HANYA ITU
PENDAMAI HATI YANG KECEWA
JANGAN MEMBENCI ATAU MENDENGKI
LIHATLAH HIKMAHNYA SECARA MENYELURUH
KAWAN!!!

KASIH SAYANG PENENTRAM JIWA
DIMANA YANG TERLEKA MENJADI SEMBUH
YANG TERSULUT AMARAH MENJADI TERSENYUM
YANG TERSIKSA HATI MENJADI TERHIBUR

KASIH SAYANG ADALAH SEBUAH BUKTI
BETAPA CINTANYA SESAMA MUSLIM
JABAT TANGAN DAN SALING BERUCAP SALAM
IKATKAN UKHUWAH MENUJU KEMENANGAN


Sejuta Arti Ungkapan (2)

Sungai luas memanjang tak bertepi
Mengalir air jernih tak terhenti
Membaca kehidupan alam yang berarti
Memakmur makhluk semesta bernyanyi

Ketika hati gelap tak bertepi
Jiwa pun hilang dalam sunyi
Raga sepi terhampa dan mati
Namun…
Datang cahaya diri-Mu nan suci

Oh, wahai engkau sang kekasih
Biarlah kutangisi kehampaan ini
Biarlah kusesali kefasikan ini
Biarlah kujejaki langkah kaki ini
Tapi jangan kau berlari dari diri ini

Laksana kesejukan malam sunyi
Senyummu indah cermin purnama
Laksana dinginnya embun pagi
Matamu sejuk bulat bercahaya
Kiranya dirimu mengerti
Karena dirimu dunia ceria

Seandainya dapat ku putar waktu kembali
Ingin rasanya diriku mengulang cita sekali lagi
Awali hidup yang putih seperti ini
Tanpa menodainya dengan warna – warni duniawi

Dinginnya malam menusuk sendi – sendi tulang
Dalam kehampaan dan jua ketakutan
Gelisah hati dalam bimbang dan kegalauan
Antarkan kepergianmu dalam kehidupan
Sunyi kasih tak sampai berbekas
Terasa hangat air mata basahi pipi
Rinduku akan kehadiranmu
Buatmu menari dalam kenangan

Kepergianmu bukan suatu penyesalan
Tapi perjalanan penuh pelajaran
Pelajaran dalam ilmu perasaan
Akan pentingnya sebuah persahabatan
Sahabatku
Walaupun dirimu hilang dari pandangan
Takkan pernah terhupus dalam ingatan
Harapanku tuk kembali menemukan
Dirimu kembali di akhir penantian

Sejuta Arti Ungkapan (1)

Sebening kaca dalam kemilau cahaya
Semurni emas dalam gemericik air
Seputih salju dalam dinginnya es
Sedamai alam dalam hiruk pikuk dunia
Seperti itulah dia dalam pandanganku

Ketika berjalan lurus menatap
Tersentak dada terpesona mata
Melihat cahaya berjalan menghampiri
Menggenggam tangan tak juga hilang

Buatmu hati sedikit berlabuh
Ketika rembulan tampakkan sinarnya
Tapi sedikit harapan tak kunjung datang
Menanti hati kembali terang

Sebuah jam tunjukkan waktu
Waktu berlari tak jua henti
Hidup berjalan ikuti alur
Entah mengapa tak jua lurus

Bunga mawar indah merona
Bunga melati harum menyebar
Bunga matahari mekar nan elok
Tapi hanyalah diri-M yang sempurna

28 Juli 2008

Kisah Syahidnya Anas bin Nadhr

Anas bin Nadhr ialah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang tidak mengambil bahagian dalam peperangan Badar. Dia berasa kesal kerana tidak menyertai peperangan tersebut. Oleh hal yang demikian dia senantiasa menanti-nanti peluang untuk menyertai peperangan untuk menebuskan apa yang dianggapnya suatu kerugian bagi dirinya. Kesempatan yang dinanti-nantinya itupun tibalah apabila berlaku perang Uhud pada tahun yang berikutnya. Anas pun dengan serta merta menyertai tentera Muslimin dengan semangat kejihadan yang tulin maju kemedan pertempuran. Sungguhpun bala tentera yang dihadapi mereka berkali-kali ganda banyaknya namun tentera Muslimin sedang mengatasi pihak musuh. Tiba-tiba berlaku suatu kesilapan.

Nabi Muhammad s.a.w. telah menghantar sepasukan pemanah-pemanah yang terdiri daripada 50 orang untuk menguasai tentera berkuda pihak musuh yang mungkin menyerang tentera Muslimin dari belakang. Mereka diperintahkan supaya menetap diatas sebuah bukit dibelakang tentera Muslimin selagi mereka tidak menerima arahan daripada Nabi Muhammad s.a.w. sendiri menyuruh mereka berundur dari situ. Tetapi mereka ini telah mengingkari arahan Baginda s.a.w. Apabila mereka lihat askar-askar musuh lari lintang pikang, diburu oleh Mujahid-Mujahid Islam, mereka menyangka yang kemenangan telah pun tercapai lantas meninggalkan tempat mereka sambil berkejar-kejaran untuk mendapatkan harta rampasan. Yang tinggal diatas bukit itu hanyalah ketua mereka dan beberapa orang yang masih taat. Apabila dilihat oleh pemimpin tentera mushrikin yang bukit itu telah terdedah, dia pun mengerah pasukannya menyebu dan membunuh tentera panah Muslimin yang masih bertahan diatasnya dan melancarkan serangan balas terhadap tentera muslimin dari belakang ketika mereka sedang asyik mengumpulkan tentera rampasan.Dalam keadaan kelam kabut inilah Anas terpandang kepada Saad bin Maaz yang sedang melalui hadapannya. Dia memekik mengatakan:"Ya Saad! Kemana engkau? Demi Allah! Aku mencium bau Syurga yang datangnya dari Jabal Uhud".

Dengan berkata demikian dia pun menerkam musuh lalu menentang mereka habis-habisan sehingga dia gugur sebagai Syahid dimedan peperangan. Apabila badannya yang berlumuran darah itu diperiksa terdapat tidak kurang dari 80 liang luka semuanya.Tidak ada siapa yang dapat mengenalinya melainkan saudara perempuannya sahaja. Orang yang berjihad dijalan Allah s.w.t.. dengan penuh keikhlasan dan kejujuran akan mengecap nikmat syurga didunia ini dan diakirat. Demikianlah hal keadaannya dengan sahabat Anas bin Nadhr.

Seuntai Hikmah Isro' Mi'roj

Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari masjid Al Haram yang terletak di kota Makkah ke masjid Al Aqsha yang terletak di Palestina. Sedang mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari masjid Al Aqsha yang terletak di planet bumi menuju Mustawan, melalui tujuh planet atau dengan kata lain, mi'raj adalah perjalanan inter planet. Jadi "isra'" dan "mi'raj" adalah dua peristiwa yang disebutkan oleh Al Qur'an dalam dua surat yang berbeda. Isra' disebutkan dalam surat Isra' ayat 1:

بِسْــمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ .
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْـرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْــجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصى الَّــذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ .

"Dengan nama Allah Yang Maha Luas belas-Nya lagi Maha Kekal kecitaan-Nya. Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muham-mad) pada waktu sebagian dari malam hari dari masjid Al Haram ke masjid Al Aqsha yang telah Kami beri berkah sekelilingnya agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Peristiwa mi'raj disebutkan dalam surat An Najmu ayat 13 - 18:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّــــــهِ الْكُبْرَى .

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratil Muhtaha. Di dekatnya ada sorga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar".

Hal ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa manusia selaku makhluk sosial harus mengadakan hubungan atau komunikasi yang baik dengan sesama makhluk Allah di muka bumi; sedang sebagai hamba Allah, manusia wajib melakukan hubungan yang baik dengan Allah swt. yang telah menciptakannya dan telah menganugerahinya berbagai macam keni'matan yang diperlukannya selama hidupnya di dunia. Hubungan baik dengan sesama makhluk dan dengan Sang Pencipta akan membawa ketenangan dan ketenteraman jiwa yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup yang sejati, baik di dunia maupun di akhirat.