by Irfan Mundzir RamdhaniNamaku Irfan Solihin, remaja berumur 20 tahun. Hari ini bertepatan dengan hari ‘Idul Fitri‘ atau orang Indonesia biasa menyebutnya hari lebaran. Hari dimana kaum muslimin merayakan kemenangannya setelah berjuang selama 30 hari melawan lapar dan dahaga serta menjaga hawa nafsu dengan penuh suka cita berbagi dengan seluruh keluarga. Berbeda denganku, memang pagi hari aku masih dapat tersenyum setelah saling memaafkan, tetapi senja yang menyelimuti alam semesta ini serasa mengiringi perasaan hatiku yang sedang dibalut duka dan penyesalan. Aku hanya dapat mengenang masa laluku itu dengan merenung di pelabuhan ini setiap tahunnya. Banyak dari temanku yang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padaku di masa lalu, tapi saat itu hatiku belum siap untuk menceritakannnya. Sekarang aku semakin mengerti dan mawas diri, aku akan menceritakan kejadiannya pada kalian semua. Tiga tahun yang lalu, empat hari sebelum hari lebaran, saat itu aku masih dalam masa liburan sekolahg ku yang membosankan. Senja yang sama dengan sekarang sudah mulai menmpakkan dirinya seperti sedang menemani diriku yang sedang diurung sepi di ujung pelabuhan yang indah ini.
“ Pemandangan yang indah, ingin sekali aku menyatu dengannya,” lirihku terkesima dengan suasana pelabuhan ini.
“ Laut yang indah, ombak yang menggulung, lambaian pepohonan serasa menyatu ke dalam diriku, oh, alangkah damai hatiku.”
“ Indah sekali puisimu itu,” ujar seorang wanita yang tiba – tiba muncul di hadapanku. Wanita yang sangat cantik, memakai jilbab berwarna merah muda.
“ Maaf ini bukan puisi, ini hanyalah luapan hatiku. Eh, aku belum pernah melihatmu, kamu orang baru ya.”
“ Yap, perkenalkan namaku Annisa, aku baru tiba di sini bersama dengan kakekku,” jawabnya seraya melontarkan senyum.
“ Annisa, hmm… nama yang bagus, namaku Irfan asli orang sini.”
Itulah awal pertemuanku dengan Annisa. Entah kenapa, walaupun baru bertemu, aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Apalagi dia sangat manis juga ramah. Sepertinya antara perkataanku dengannya saling melengkapi. Akhirnya kami pun larut dalam luapan canda dan tawa. Hingga tidak terasa bergema azan maghrib, kami pun menyudahi perjumpaan kami dan berjanji untuk bertemu hari esok di waktu yang sama di pelabuhan ini
Esoknya, senja yang lebih indah dari kemarin membuat diriku merasa ingin cepat sampai di pelabuhan. Jujur diriku sangat merindukan wanita kemarin. Ya wanita yang bernama Annisa. Alangkah senangnya hatiku ketika kulihat dia dari kejauhan sedang menerawang langit – langit senja. Begitu terkejut pula, karena baru kali ini aku ditunggui oleh seorang wanita.
“ Hei, Annisa tak kusangka kau akan tiba lebih dulu.” teriakku.
Annisa hanya menjawab sapaanku dengan senyuman, sungguh membuatku menjadi tersipu malu.
“ Sudah lama menunggu, maaf yah terlambat,” kataku kemudian.
“ Nggak, aku juga baru sampai. Pemandangan di sini indah sekali yah, sangat nyaman membuatku merasa kerasan untuk berlama – lama di sini.”
“ Iyalah, bahkan menurutku ini satu – satunya tempat terindah di desa ini. Eh, sebenarnya kamu tinggal dimana sih ? “
“ Rumahku, rumah nenekku kali,” katanya mengingatkanku.
“ Aduh, maaf aku lupa habisnya kamu…, ah nggak jadi ah, ayo dimana rumahnya beritahu dong,” kataku setengah merayu.
“ Bener nih mau tahu , gak nyesel nih.”
“ Hehe, pake nyesel segala, ya nggak lah.”
“ Kamu tahu kan rumah Pak Rw,” jawabnya.
“ Jadi ..jadi kamu ini cucu bapak Rw,” aku benar – benar terkejut.
“ Ya … nggak lah, nah rumahku tuch di belakangnya.”
“ Oooooh.”
Kemudian aku juga mengajaknya berkeliling. Sungguh bahagia rasanya melihat senyumnya ketika bersamanya waktu itu. Dia juga banyak bercerita tentang dirinya, tapi kadang kala wajahnya terlihat sangat murung seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar, yang orang lain tidak boleh mengetahuinya. Tapi saat itu tak kupedulikan, yang kupikirkan saat itu bagaimana agar dia bisa terus tersenyum berbagi kebahagiaan denganku.
Hari esoknya atau dua hari sebelum lebaran.
Siang yang sangat panas menyengat seluruh tubuhku, mengeringkan tenggorokanku, di tengah aku sedang berusaha menahan lapar dan dahaga, namun itu tidak kupedulikan. Aku ingin segera menuju ke rumah yang ditunjukkan Annisa, aku ingin cepat bertemu dengannya, melepaskan rasa rinduku ini. Di ujung sana, sedikit lagi rumahnya akan kugapai. Kuhentikan langkahku mencoba melihat ke sekeliling rumahnya dari balik pagar yang tinggi. Rumah yang benar – benar megah, bahkan mungkin yang paling megah di desa ini. Baru kali ini aku melihat rumah sebesar ini, memang sih aku tidak pernah jalan – jalan ke sini. Tapi ada sesuatu yang janggal, yang membuat aku heran, rumah ini sangat sepi, tidak ada seorang pun di sana. Ku coba membunyikan belnya, namun tak satupun ada suara yang menyahutnya.
“ Hei, nak, orangnya lagi pada pergi,” teriak seorang tua yang ternyata Pak Rw.
“ Memangnya pada kemana sih, Pak ?” tanyaku kemudian.
“ Bapak kurang tahu tuh, tapi ini sih udah jadi kegiatan rutin keluarga itu. Yah, sejak cucunya datang ke sini, jalan – jalan kali, biasa ngisi liburan sekolah. Kamu juga kan ?”
“ Ya deh, saya permisi dulu ya Pak. Assalammmu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam.”
Seketika itu pula aku bergegas untuk pulang. Namun selama dalam perjalanan aku merasa penasaran ‘ mengapa Annisa tidak pernah memberitahu aku, kalau dia suka bepergian siang hari ?’.
Sore harinya. Aku berlari secepat kilat, memburu rasa penasaranku untuk segera bertemu Annisa. Ku lihat dari kejauhan dia sudah datang menungguku di atas batu besar, tempat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku segera menghampirinya.
“ Assalammu’alaikum, hah.. hah..,” kataku dengan napas yang tersenggal – senggal.
“ Wa’ alaikum salam, kenapa kok lari – lari, buru – buru sekali sih,” balasnya seraya menebarkan senyumannya, membuatku rasa lelahku hilang seketika. Namun aku harus tetap menanyakan alasan dia tidak memberitahuku tentang kebiasaan keluarganya itu.
“ Nisa, kamu pergi kemana tadi siang, aku berkunjung ke rumahmu, tidak ada siapapun di sana,” tanyaku tanpa basa – basi. Dia tidak segera menjawab. Wajahnya mendadak pucat sekali, terlihat bahwa dia shock mendengar pertanyaanku.
“ Nisa, kemana ?” kutanyakan sekali lagi.
“ A..aku pergi shoping bersama nenekku. Yah, aku pergi berbelanja membeli pakaian untuk lebaran nanti, “ jawabnya.
Aku melihat kebohongan tersirat di wajahnya. Dia benar – benar terlihat sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Tertanam dalam benakku satu pertanyaan mengapa dia berbuat demikian. Namun, aku tidak tega untuk menginstrogasinya lebih lanjut, wajahnya sudah terlalu pucat.
“ Ya, sudah gak apa – apa kalau gitu, nanti kamu sekeluarga sholat ied dimana ?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“ Aku, aku belum tahu, aku sih terserah keluargaku, tapi denger – denger sih keluarga sholatnya di masjid alun – alun,” jawabnya walaupun dengan setengah gugup.
“ Oh, masjid yang besar itu, yang dikelilingi oleh taman bunga yang indah itu kan. Wah, itu kan jarak jauh sekali, coy. Kalo aku belum sampai sana sudah ngos – ngosan.”
“ Kok, bisa gitu ?” raut wajah Annisa sudah kembali seperti biasanya.
“ Ya, iya lah kan ke sana jalan kaki kan kita gak punya kendaraan. Mau ke sana gimana naek superman apa ?” jawabku.
Annisa hanya membalas dengan tertawa. Melihatnya tertawa seperti itu hatiku merasa lega. Entah kenapa semakin lama, aku merasa ada perasaan yang selalu membuatku resah bercampur bahagia jika bersamanya. Mungkin ini yang dinamakan perasaan cinta. Ahh…
“ Fan, kamu ada waktu gak ? sekarang kan masih jam lima nih, aku minta diantar ke pangkalan para nelayan. Aku ingin sekali melihat kegiatan mereka di sore hari. Kamu bisa kan ?” tanyanya dengan mata penuh semangat.
“ Siapa yang dapat menolak ajakanmu sich, hahaha.”
Akhirnya kami pun pergi ke pangkalan para nelayan.
Aku sih sudah tidak asing di sini karena sudah sering membantu para nelayan. Hingga aku sudah banyak di kenal oleh hampir seluruh nelayan. Karena itulah, ketika aku datang bersama dengan Annisa, banyak yang menyapaku, malah ada juga yang menyindirku, atau menyiuliku.
“ Wei, itu lihat si Irfan sama cewek cantik euy, suit suit,” teriak Mang Karta, salah satu teman nelayanku.
“ Kamu hebat yah, Fan. Sudah terkenal di sini. Aku jadi iri,” kata Annisa terkagim – kagum.
“ Ah, ini sih bukan apa – apa, sebab siapa yang mencari teman maka dia akan di cari oleh teman lain, itu prinsipku. Kamu mau lebih dekat berinteraksi dengan mereka, ayo cepat,” ku raih tangannya.
Kami pun bersuka cita dengan para nelayan di sana. Membantu mendorong perahu mereka. Menangkap ikan dan banyak lagi yang kami lakukan. Benar – benar hari yang menyenangkan. Annisa tidak menyembunyikan kegembiraannya, wajahnya terlihat begitu ceria, tertawa riang sekali. Hingga tak terasa waktu menunjukkan akan dikumandangkannya azan maghrib, saatnya berbuka telah tiba. Seperti biasa, aku mengantarkan Annisa sampai pangkalan ojeg tidak jauh dari pelabuhan.
Malam harinya,
Masih terbayang dalam benakku, pengalaman yang sangat menyenangkan bersama Annisa. Ingin sekali aku merasakan kebahagiaan seperti itu lagi. Sungguh aku merindukannya, rindu akan kebahagiaan, rindu pada Annisa. Ah, Astaghfirulloh rasa cintaku kepadanya hampir membuatku melupakan Sang Penciptaku Illahi Robbi. Aku berdo’a dan kemudian ku pejamkan mataku.
“ Aaaaaaaa, tidak ”
Rupanya hanya mimpi, pikirku. Aku.. aku melihat Annisa telah di kafani dan sedang di sholatkan, disebelahnya terletak surat. Untuk Irfan, tulisan diatas surat itu. Huh, mimpi yang buruk sekali. Semoga ini bukan pertanda buruk. Amin. Ku lihat jam telah menunjukkan pukul 03.15. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Ku ambil air wudhu. Ku tegakkan sholat malam. Aku berdo’a agar selalu dilimpahkan kebahagiaan dan keselamatan bagiku, bagi kelurgaku, bagi Annisa.
Azan shubuh menggema. Setelah makan sahur, aku bergegas pergi ke masjid sholat shubuh berjama’ah. Di sambung dengan kuliah shubuh.
Waktu pun terus berlanjut. Hingga memasuki sore hari.
Seperti biasa, aku bergegas menuju pelabuhan. Tapi, tak seperti biasanya, Annisa belum datang. Aku menunggu di atas batu sambil menikmati panorama senja yang indah ini. Lama sekali aku menunggu. Ku lirik jam tanganku sudah pukul 17.45, Annisa belum juga datang. Bagai telor pecah penantianku tidak sia – sia. Annisa datang. Tapi, tapi wajahnya pucat sekali. Jalannya pun terlihat lunglai sempoyongan.
“ Assalammua’alaikum, Fan,” sapanya.
“ Wa’alaikum salam, kamu kenapa, Nis ?” tanyaku penasaran.
“ Aku tidak apa – apa, uhuk uhuk,” jawabnya terbatuk – batuk.
Tiba – tiba azan maghrib berkumandang.
“ Fan, biarkan aku berbuka di rumahmu, ya,”
“ Baiklah kalau itu keinginanmu.”
Ku papah dia berjalan menuju rumahku. Sesampainya di rumah, dia langsung ku kenalkan dengan keluargaku. Keluargaku sangat senang menyambutnya. Kami pun berbuka bersama. Setelah berbuka, Annisa mengajakku pergi ke masjid. Kebetulan dia telah membawa mukenanya sendiri. Dalam perjalanan menuju masjid tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Anehnya, aku juga tidak berkata apa – apa.. Sampai di masjid, Annisa terpisah denganku. Dia menuju shaf perempuan dan langsung duduk berdzikir di sana menunggu datangnya waktu isya. Aku merasa heran dengan sikapnya itu, tapi kupendam saja. Waktu isya datang, semua jamaah yang hadir sholat isaya berjamaah. Setelah berdzikir dan berdo’a, kemudian sholat tarawih bersama.
Barulah sesudah rangkaian ibadah itu dilaksanakan, aku bertemu kembali dengan Annisa. Kami duduk di teras masjid. Kemudian dia memulai pembicaraan.
“ Fan, Alloh itu Maha Penyayang yah ?” tanyanya.
“ Tentu, itu pasti, memangnya kenapa gitu ?”
“ Alloh telah menyayangiku dengan memberikan aku nikmat yang banyak. Dia juga mempertemukanku denganmu. Subhanalloh,”
“ Fan, bukankah dalam pertemuan pasti akan terjadi perpisahan ?” tanyanya kemudian.
“ Ya,” jawabku
“ Bukankah sesuatu yang hidup pasti akan merasakan mati ?” tanyanya kemudian.
“ Ya,” jawabku lagi, penuh dengan rasa penasaran.
“ Maka bagaimana perasaan seseorang yang ditinggal pergi oleh orang yang disayanginya.’
“ Tentu saja dia akan merasa sangat sedih, memangnya ada apa, Nis ?”diriku balik bertanya karena begitu penasaran.
“ Tidak, tidak apa – apa,” jawabnya.
Saat itu ku lihat dari wajahnya sosok yang menunjukkan kesedihan yang mendalam. Diriku merasa akan ditinggalkan olehnya.
“ Besok kan lebaran, kita bertemu lagi di tempat biasa sore harinya yah. Soalnya aku tidak akan ada di sini dari pagi karena seperti ang telah ku bilang aku akan sholat ied di masjid alun – alun, siangnya aku aakan berziarah ke makam kerabatku. Jadi, tunggu aku besok sore, yah,” katanya.
Lalu dia berpamitan dan pergi dari hadapanku. Ku lihat sosok punggungnya, aku merasa sosok itu tidak akan kembali lagi. Aku juga penasaran akan omongannya tadi, apa meksudnya dia berkata demikian. Hatiku menjadi resah dan tak enak. Tapi, sudahlah yang penting sekarang takbiran dulu. Kitra sambut kemenangan yang telah din anti – nanti dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur kepada Alloh.
Esoknya, hari – hari yang dinanti oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia telah tiba. Ya, hari besar Iedul Fitri, hari kemenangan telah tiba. Hari seluruh umat Islam meluapkan kegembiraannya setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga serta mengendalikan hawa nafsu. Sholat ied pun segera dilaksanakan disambung dengan khutbah dari para khotib. Setelah itu, semua saling bermaaf – maafan, saling bersalaman, sungkem kepada orang tua atas dosa yang telah dilakukan. Begitu juga aku. Aku menangis mohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukan kepada ayah dan ibuku. Bermaaf – maafan dengan para saudara, tetangga, dan teman – teman di desaku. Kemudian kami pun pergi berziarah ke kerabat terdekat kami. Dan terakhir bersuka cita melahap ketupat, canda tawa dengan sanak saudaradan sebagainya. Sampai tiba sore hari, waktu aku berjanji untuk bertemu dengan Annisa untuk saling mengucap maaf dan tepang sono kalo bahasa jawanya. Aku jugamasih penasaran dengan apa yang dikatakannya kemarin malam. Tapi aku harus tetap husnudhon, aku harus berbaik sangka kepadanya. Namun, seiring dengan waktu yang terus berjalan, rasa penasaranku itu semakin menjadi – jadi ketika Annisa belum juga kunjung datang. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan tetap menunggunya di pelabuhan ini. Tiba – tiba muncul dua orang menghampiriku. Kelihatannya sepasang suami istri. Sang suami yang bertubuh besar dan kekar bertanya kepadaku.
“ Apakah kamu yang bernama Irfan ?” tanya bapak itu.
“ Ya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak ?”
“ Dasar anak kurang ajar.”
Belum sempat aku berkata – kata, tiba – tiba sebuah bogem mentahnya mendarat di perutku. Aku tersungkur, ku coba bangkit. Namun, lagi – lagi pukulan demi pukulan meluluhlantakkan diriku. Wajahku memar, aku sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi.
“ Sudah.. sudah Pak, jangan diteruskan. Dia tidak bersalah. Biarkan yang sudah terjadi. Maafkanlah dia,” bujuk istrinya seraya merangkul kedua tangannya, mencegahnya untuk kembali memukulku.
“ Tapi gara – gara dia anak kita Bu, anak kita, euuuuh,” jawab suminya sambil menahan geram.
“ Biarkan Pak. Serahkan saja pada Alloh,Pak. Ayo, mari kita pulang, ayo, Pak,” bujuk istrinya.
“ Baik, baik Bapak maafkan dia kali ini. Ayo, Bu.”
Mereka pun pergi meninggalkanku yang masih tergeletak tak berdaya. Aku menerawang ke langit – langit, sebenarnya apa salahku sampai kedua orang itu menghajarku sampai begini. Belum tuntas aku berpikir, seorang wanita paruh baya menyapaku.
“ Apakah kamu yang bernama Irfan ?” wanita itu bertanya .
“ Ii ..ya a ,” jawabku dengan terbata - bata.
“ Aku Shinta kakak Annisa. Aku ingin menyampaikan surat dan permintaan maaf Annisa kepadamu.”
“ Minta maaf untuk apa ?” ku paksa diriku untuk bangkit.
“ Mungkin kau takkan pernah bertemu dengan adikku lagi karena dia … “ tiba – tiba kata – katanya terputus.
“ Annisa kenapa ?”
“ Di..dia telah meninggal ,” tangisnya pecah. “ Dia meninggal karena penyakit paru – paru yang dideritanya,” katanya lagi sambil memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh Annisa untukku. “ Itulah yang menyebabkan kedua orang tua yang tidak lain adalah orang tuaku marah kepadamu, karena kau yang dianggap penyebab kematian adikku.” “ Terimalah pesan terakhir dari adikku.”
Setelah menyerahkan surat itu. Wanita itu pun kemudian berlari meninggalkan diriku. Aku masih terdiam membisu serasa jiwaku melayang entah ke mana.
“Annisa… Ann…Annisa,” air mataku mulai bercucuran.
Kuhadapkan wajahku ini pada laut senja.
“ Tidak… Tidaaak,”
Aku kalap, aku bingung, seketika itu ku lepaskan genggaman surat yang ku terima. Aku meloncat ke laut, membenamkan diriku kedalamnya berkali – kali.
“ Annisaaaaaaaaaaaaaaa,” aku berteriak sekencang – kencangnya.
Kucoba menenangkan hatiku, jernih kembali pikiranku. Kulihat kembali amplop surat tadi, aku bangun dan mengambilnya. Kubuka amplop dan kuraih surat dari Annisa. Kubuka dan kubaca.
Kepada Saudara seperjuanganku, Irfan Solihin
Assalammua’alaikum wa roh matullohi wa barokatuh,
Irfan sahabatku, maafkan aku karena bila surat ini telah sampai kepadamu berarti aku sudah tiada di dunia ini. Maafkan aku karena telah menyembunyikan sebuah rahasia kepadamu, bahwasannya aku memiliki penyakit kanker paru – paru. Aku tidak ingin membuatmu merasa sedih, sebab dokter mengatakan kepadaku bahwa kematianku tinggal menghitung hari. Maafkan aku juga, mungkin sebelum surat ini sampai ayahku akan memarahimu. Kemarin malam, aku melihat ayahku sangat berang melihatku pulang malam – malam, hingga aku terpaksa berterus terang kemana sebenarnya aku pergi. Ku ceritakan dirimu kepadanya.
Irfan sahabatku, melalui surat ini, aku ingi menjelaskan alas an atas beberapa kebohonganku selama ini kepadamu. Saat kaum menanyakan kepadaku kemana ku pergi ketika kau berkunjung ke rumahku, aku menjawab bahwa aku sedang pergi berbelanja dengan nenekku. Padahal sebenarnya aku pergi memeriksakan penyakitku ke dokter, ketika dokter mengatakan hidupku tinggal beberapa hari lagi. Kemudian saat aku mengajak berbuka di rumahmu, sebenarnya wajahku pucat karena aku sedang merasakan penyakitku sudah mencapai puncaknya. Setelahnya, aku mengatakan kepadamua tentang pertemuan, perpisahan, kehidupan dan kematian kepadamu. Itu ku katakan karena aku merasa bahwa aku akan pergi meniggalkanmu, pergi untuk selamanya. Tapi dari semua tingkah lakuku ini, tak satupun yang membuatmua curiga. Kau terus berusaha untuk membahagiakan aku, membuatku selalu tersenyum. Kau adalah sahabatku yang terbaik bagiku, walaupun pertemuan singkat, aku berharap ini akan menjadi kenangan yang terindah.
Irfan sahabatku, aku ingin minta tolong kepadamu. Di dalam amplop itu, ada kertas surat yang lain serta ada pita berwarna merah, kan. Aku minta kepadamu sampaikan surat itu kepada ayahku dan tolong jangan dibuka. Berikan pula pita merah itu kepada kakakku Shinta. Jangan takut karena mereka akan mengerti. Terima kasih atas segala perhatianmu padaku selama ini.
Wasalammu’alaikum wa roh matullohi wa barokatuh
Sahabatmu, Annisa Nur Illahi
Tak terasa air mataku kembali berlinang, bukan air mata kesedihan melainkan air mata haru, air mata yang ikhlas akan kepergiannya.
“ Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga kau diterima disisi Alloh dan mendapatkan tempat terbaik di sana. Amin,” ucapku kemudian seolah – olah aku mengerti alasan dari segala kejadian ini.
Kulihat sepucuk surat dan pita merah yang dikatakan Annisa kepadaku. Ku genggam erat – erat.
“ Akan ku sampaikan amanat ini, tenanglah kau di sana.”
Aku pulang ke rumah. Di sana seluruh keluargaku menanyakan kenapa aku pulang dalam keadaan babak belur. Kukatakan saja aku berkelahi orang yang tak ku kenal dan kukatakan pula bahwa aku tidak menaruh dendam kepadanya. Keluargaku pun mengerti dan tidak banyak bertanya.
Esok paginya aku bergegas berangkat menuju ke rumah keluarga Annisa untuk melaksanakan amanah yang telah diberikannya kepadaku. Ketika sampai dip agar rumahnya, mendadak hatiku menjadi ciut. Teringat apa yang telah dilakukan ayahnya padaku kemarin. Namun, aku harus tetap tegar, kutepis segala keraguan di hatiku. Kutekan bel rumahnya.
Tebukalah pintu rumah itu, kenbetulan pula yang membukanya adalah ayahnya. Dia mendekat menghampiriku. Matanya masih tetap seperti kemarin, memendam kebencian yang mendalam kepadaku.
“ Mau apa lagi kau kesini, anak sialan. Belum puas dimerasakan hajaranku, heh,” bentaknya kepadaku.
“ Tidak, Pak. Aku ke sini untuk menyampaikan surat dari Annisa kepada Bapak,” jawabku sambil menyerahkan surat itu kepadanya.
Dia membuka surat itu dan membacanya. Tiba – tiba dia menangis dan meminta maaf kepadaku. Aku heran sebenarnya apa yang telah di bacanya, tapi biarlah itu adalah rahasia pribadi orang. Kemudian kutitipkan pita merah itu kepada sang ayah untuk diberiakan kepada kakak Annisa, Shinta.
Akhirnya akupun bisa pulang dengan tenang.
Gimana ceritaku coy seru kan.
“ Hei, Fan masih ngelamun sendirian nih,” teriak seseorang yang berlari menuju ke arahku. Ternyata dia Fachrul sahabatku.
“ Eh, kamu Cul, aku di sini sedang bercerita tentang kenangan masa laluku itu dan baru saja selesai,” jawabku.
“ Cerita, cerita pada siapa orang di sini gak ada orang. Lu bicara sama jin yach ?” tanyanya keheranan.
“ Aneh yach. Mau tahu aku bercerita pada siapa. Ku ceritakan… pada rumput yang bergoyang ooh,” jawabku sambil menyanyikan sepotong liriknya Ebiet G. Ade.
“ Huh, dasar lu. Sudah ayo cepet acaranya keburu di mulai nih. Ayo cepet,” ajaknya sambil menarikku untuk segera berdiri. Memang sih sekarang akan diadakan jumpa bintang extravaganza di desa ini dalam rangka acara amal menyambut hari kemenangan.
Aku segera bangkit dan berlari bersama dengan sahabatku.
“ Tunggu,” kataku. Ku balikkan badanku. Ku katakan :
Gak semua yang lu denger itu bohong hahay dedeuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar