27 Juli 2008

Syurga Cinta di Ujung Penantian

by Irfan Mundzir Ramdhani

Sekolah ini sudah terasa begitu sesak di siang hari ini. Panas yang menyengat iringing kepenatan suasana hari ini. Namun, itu semua tak jua menyurutkan senyuman para siswa dan orang tuanya. Hari ini ijazah kelulusan telah dibagikan dan merupakan sebuah kabar yang menggembirakan karena semua siswa SMP Negeri 16 Bandung dinyatakan lulus.
Begitu juga aku, senyum dan ceria hiasi wajah aku dan ibuku. Bagaimana tidak aku lulus dengan predikat nilai yang sangat memuaskan. Ibu terlihat sangat bangga sepanjang jalan, sampai kami berpisah karena aku harus berkumpul bersama teman-temanku.
Bersama mereka terasa olehku betapa kebahagiaan dan keceriaan kami harus dibagi sama rata dengan kesedihan akan adanya suatu perpisahan. Ya, kami akan berpisah satu sama lainnya untuk melanjutkan ke SMA yang kami tuju masing-masing. Suasana haru dan penuh tangis baluti obrolan kami. Apalagi ketika teman tersayangku Shanti mengucapkan salam perpisahan, sungguh membuatku tak bisa membendung air bah yang keluar dari mataku.
Bagaimanapun aku hanyalah seorang perempuan yang penuh dengan kelemahan jiwa dan perasaan. Tapi kucoba untuk tetap tegar, kutahu bahwa hidup manusia telah ada yang menggariskan. Takdir kita kiranya sudah digoreskan oleh Sang Maha Pencipta jauh sebelum kita lahir ke dunia ini.
Semua kesedihan seketika reda ketika kulihat sosok lelaki di seberang sana. Sosok yang ternyata adalah Haikal, lelaki yang selama ini kukagumi dan kucintai diam-diam. Kulangkahkan kaki mencoba mendekati dia, niatku kunyatakan perasaanku padanya hari ini dan saat ini juga, Perasaan yang selama ini kupendam di lubuk hatiku yang terdalam.
Belum sampai tubuh ini mendekatinya, dia sudah melemparkan senyumnya padaku. Oh, sungguh membuat jantungku berdegup dengan kencangnya juga buat nyaliku ciut untuk berterus terang. Aku semakin tersentak ketika dia menghampiriku. Dan…tiba-tiba Haikal meraih kedua tanganku meletakkan di atas tangan kanannya. Lalu seceapt kilat sebuah buku ditaruhnya di atas kedua tanganku itu.
“Aisyah, ini adalah sebuah tanda ikatan antara aku, kamu dan Alloh. Semoga Alloh menjodohkan pertemuan kita kembali dalam sebuah amanah yang dititipkan-Nya.”
Setelah mengatakan itu, sang lelaki tercinta memalingkan wajahnya dan segera berlalu meninggalkan diriku. Aku hanya terpana melihat semua kejadian ini. Bahkan tangaku masih gemetar memegangi buku yang diberikannya. Buku berjudul ‘Syurga Cinta di Ujung Penantian’. Dan akhirnya, Haikal menghilang dari pandangan dan juga hidupku, karena esoknya kudengar dia telah terbang menuju Mesir untuk melanjutkan studinya. Oh hatiku….
Kini, umurku telah menginjak 28 tahun. Aku telah hijrah menjadi lebih baik. Dari cara berpakaian sampai tutur kata semua serba Islami. Hidayah Alloh begitu cepat merasuki lubuk hatiku sekitar belasan tahun yang lalu. Entah apa yang membuatku berubah, aku memang suda agak lupa dengan masa laluku itu. Namun di usiaku ini, belum terlintas keinginan untuk menjalin sebuah hubungan pernikahan. Sepertinya diri ini masih menunggu jawaban dari sebuah ketidak pastian, walau sebenarnya ku tak tahu apa pula yang menjadi pertanyaannya.
Tapi semua pikiran itu kutepis dengan kesibukkanku pada suatu organisasi keagamaan. Ya, sekarang pun aku sedang menuju ke Masjid Salman ITB untuk mengikuti acara tabligh akbar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Salman ITB. Kali ini khusus mengundang seorang mubaligh dari Universitas Al-Azhar Mesir. Kabarnya beliau adalah orang Indonesia yang kuliah di universitas islam paling terkenal di dunia tersebut. Sayangnya aku belum mengetahui namanya.
Acara sudah dimulai, sang mubaligh telah membuka suaranya dengan muqodimah. Aku benar-benar terlambat hadir sehingga terpaksa duduk di shaft paling belakang. Ku dengarkan baik-baik ceramah dari sang khotib, suaranya begitu lembut dan beliau dapat membawa suasana dengan begitu baik. Dilihat dari raut wajahnya, usianya masih teramat muda, mungkin seusia denganku. Tapi itu juga kulihatnya dari kejauhan. Hanya saja, aku seperti familiar dengannya.
Adzan dzuhur berkumandang, tabligh akbarpun telah selesai. Setelah melaksanakan sholat berjamaah, aku bergegas menuju ke rumah. Masih terngiang-ngiang di telingaku ceramah tadi pagi. Yang bertemakan ‘Cinta Suci dari Alloh’. Isi ceramahnya begitu mengena di hati ini. Sampai di rumah, kurebahkan tubuhkan pada sebuah sofa. Kuingat-ingat petuah-petuah dari sang mubaligh. Tak terasa mataku terpejam dan akupun terlelap dalam buaian mimpi.
Tok tok tok
Assalammu’alaikum
Suara lelaki itu bangunkanku dari tidurku, kulihat jam sudah pukul setengah 5 sore. Astaghfirulloh aku belum sholat ashar. Tapi siapa yang bertamu sore-sore begini. Ah, biarlah itu urusan ibuku lebih baik aku sholat saja- batinku. Aku pun berwudhu dan mengerjakan sholat ashar. Subhanalloh, betapa sholat kali ini begitu terasa nikmat, air mataku bercucuran dalam sujudku. Ya Alloh apakah…
Setelah selesai sholat, aku keluar kamar. Aku dengar masih ada suara tamu yang tadi. Kulangkahkan kakiku ke ruang tamuku yang sederhana. Lho, itukan mubaligh yang tadi pagi, mau apa beliau ke sini.
“Aisyah, ini ada temanmu”
Aku segera duduk di sebelah ibuku, dengan penuh rasa penasaran. Kutanyakan keperluannya datang ke rumahku ini. Dia menjawab
“Bolehkah saya pinjam sebuah buku padamu. Buku yang berjudul Syurga Cinta di Ujung Penantian. Ku dengar kamu memilikinya?”
Astaghfirulloh, dari mana dia tahu aku memiliki buku itu. Itukan benda berharga yang diberikan Haikal. Dan hanya Haikal dan aku yang mengetahuinya. Siapa dia? Pertanyaan itu buatku pusing, dan aku hanya terdiam. Dia pun bertanya sekali lagi. Dan… entah apa yang terjadi, aku malah berdiri dan menuju kamarku untuk mengambil buku itu. Ku sampaikan padanya secara spontan. Diapun tersenyum. Kemudian dibukanya selembar demi selembar dan ditutupnya kembali. Dia tersenyum lagi lebih lebar dari yang tadi. Tapi aku masih terdiam.
Tiba-tiba
“Bu, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar anak ibu, Aisyah Azzahra. Perkenalkan nama saya Haikal Miftahul Ridwan. Saya adalah teman sekolah Aisyah dulu.”
Kontan perkataan itu membuat kami terhenyak. Haikal- lirihku. Tangisku mulai pecah. Kupalingkan wajahku ke arah ibuku. Sesaat rona wajahnya terlihat begitu tegang, namun sesaat kemudian beliau pun tersenyum. Setelah itu beliau mengatakan dengan tenangnya kepada Haikal bahwa segala keputusan dikembalikan lagi kepadaku. Tapi aku tetap saja bertahan pada tangisanku tanpa bisa berkata sedikitpun. Dan semakin tersendu-sendu sambil memegangi wajahku. Melihat kondisiku yang demikian, ibuku berinisiatif agar Haikal datang lagi esok pagi untuk melamar secara resmi bersama orang tuanya. Haikal setuju dan dia pun segera pamitan. Semetara aku masih meratapi diri bersama dengan tangisanku.
Malam hari ini mataku tak bisa kupejamkan masih terbayang wajah Haikal dan perkataanya sore tadi. Aku bingung dengan semua ini. Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana sikapku selanjutnya? Apa yang sebenarnya kurasakan? Apa yang akan ku jawab esok hari? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa menggelayuti pundakku.
Namun, aku bangkit dari lamunanku yang penuh dengan kepedihan ini, kuniatkan untuk mengerjakan sholat malam. Aku bersimpuh di atas sajadah merah ini, memohon petunjuk kepada Sang Penguasa Hati Illahi Robbi. Ku tumpahkan segala penatku dalam sujudku. Lama sekali sampai akhirnya aku tertidur. Dalam tidurku ini kudapati mimpi yang mungkin berupa jawaban dari Alloh.
Esok paginya Haikal beserta keluarga datang sesuai dengan janjinya untuk melamarku. Sekali lagi bahwa keputusan diserahkan sepenuhnya padaku. Terlihat raut wajah Haikal begitu cemas menanti kata apa yang akan keluar dari mulutku. Namun disembunyikan dengan senyuman yang terlalu manis bagi penglihatanku.Akhirnya aku berkata....
“Ya. Aku menerima lamaranmu Haikal.”
Jawabanku itu terdengar begitu jelas dan mantap. Melegakan hati semua orang yang hadir. Kami pun akhirnya berencana melangsungkan pernikahan ahad depan. Dan aku, aku akan menatap kehidupan yang baru.
Tibalah hari yang dinanti yaitu acara pernikahan antara aku dan pasangan hidupku dan juga lelaki yang kucintai Haikal. Acara berlangsung khidmat tanpa ada cela. Semua tamu undangan hadir mengucapkan selamat dan do'a kepada kami. Sungguh ini merupakan kebahagiaan yang teramat indah yang pernah terjadi dalam hidupku.
Malam pun tiba, malam yang selalu menjadi malam yang berbeda bagi setiap pasangan suami istri baru. Orang lebih mengenalnya dengan istilah malam pertama. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Yaitu aku ingin tahu apa alasan Haikal ingin memperistriku. Dan kutanyakan hal itu pada suamiku.
Dan diapun menjawab,
“Aisyah istriku yang kucintai. Ingatkah engkau ketika aku memberika buku itu padamu saat itu kukatakan bahwa ini adalah ikatan antara aku, kamu dan Alloh. Saat itu, aku berniat ingin melihat apa yang dilakukan olehmu pada buku itu. Kemudian kemarin ku tanyakan perihal buku itu. Dan kulihat keadaannya sudah begitu lusuh. Terlihat banyak lipatan di masing-masing halaman, namun tak terlihat ada debu yang menempel sedikitpun. Itu menunjukkan kecintaanmu kepada Alloh karena kuyakin kau takkan mengingatku. Itu terlihat dari perubahan akhlakmu wahai bidadariku. Kau hijrah bukan karenaku tapi karena Alloh. Dan itulah yang menjadi keyakinanku, engkau adalah pasanga yang terbaik dalam hidupku.” Jawaban itu seolah menguatkan aku untuk menatap masa depan. Ya Alloh berkatilah kami.

Tidak ada komentar: